Mengaborsi Cinta

Posted in Uncategorized on April 26, 2009 by Dewi

Dalam salah satu definisi dari sekian banyak definisi cinta yang tak selesai terdefinisi.

Mencintai. Seseorang:Dia. Mencintai untuk cinta.

Masokisme atas nama cinta; Mencintai menunggu; Mencintai mengganggu; Mencintai cemburu; Mencintai ragu; Mencintai selalu.

Mencari sejuta alasan untuk bertemu; untuk mengganggu; untuk merindu; untuk merayu;

Pilu, sendu, biru. Agar cinta hadir selalu atas nama rindu.

Tidak suka; mencintai dengan cinta. Memikirkan filosofi tentang cinta. Mempertanyakan kenapa harus jatuh cinta. Memberikan sebagian jiwa, mempersembahkan untuk cinta. Membuat cinta menjadi cinta. Merelakan cinta untuk mencinta.

Ingin mengaborsi cinta. Membuangnya ke ujung dunia. Memusnahkannya dari bahasa. Menolaknya sebagai sebuah rasa. Dan cinta akan masih saja ada di setiap rasa; anggur, coklat, keju, strawberry, lemon, dan mangga

Aku tak ingin mengaborsi cinta.

Sepotong Cerita Menjadi Seorang Perempuan yang Hidup di Indonesia

Posted in Uncategorized on April 19, 2009 by Dewi

Menjadi perempuan di Indonesia menurutku tidak bisa memiliki kebebasan untuk bisa mengekspresikan diri, terlalu banyak norma dan nilai tidak penting yang berujung pada ketidaknyamanan dan situasi ‘unsecure’ terhadap diri perempuan. Pernahkah seorang perempuan merasa sangat amat comfortable ketika ia berjalan sendirian. Seberapa banyakkah itu? aku tidak percaya persentase yang merasa secure akan lebih banyak daripada yang tidak? Kenapa aku begitu yakin?Karna aku tau rasanya jadi perempuan. Selalu saja rentan terhadap tindak pelecehan. Digodain cowok2 brengsek yg tidak peduli terhadap hak asasi manusia. Dicopet penjahat, dirampok, diperkosa, dibunuh, dll yg lebih kejam. Apa yang bisa dilakukan negara terhadap semua ini??? (teringat kesimpulan skripsiku “apa gunanya negara bagi perempuan?”dalam kasus ini negara juga ternyata tidak berguna bagi perempuan, sama dengan kasus female genital mutilation di Sierra Leone)


Hukum.

Hukum tertulis sudah berperspektif perempuan dengan adanya DUHAM dan CEDAW. Namun, pelaksanaannya seringkali tidak berperspektif keadilan dan kesetaraan. Seberapa banyak orang yang peduli ketika seorang perempuan mendapat diskriminasi? Seberapa banyak orang yang akan melakukan aksi? Seberapa akan berhasilkah aksi tersebut? Negara melakukan apa untuk kasus-kasus personal berupa tindak diskriminasi terhadap perempuan? Terkadang masalah yang menyangkut kepentingan umum seluruh warga negara saja (baca pemilu 2009) tidak sepenuhnya mampu di urus dengan adil oleh negara: gw dan banyak rakyat indonesia lainnya gak terdaftar di DPT ).


Aku sedang kesal hidup sebagai perempuan Indonesia. Pernah merasakan beberapa hari hidup sebagai perempuan di Singapura. Negara ini lebih baik melindungi perempuannya. Aku merasa secure berjalan sendirian, naik taksi sendirian malam hari di negara yang bukan negaraku, dan aku tidak tau jalan. Aku sangat berharap punya cukup akses dan power untuk mewujudkan situasi yang secure bagi aku sebagai perempuan Indonesia dan seluruh perempuan yang merasakan hal yang sama.


curhatan gak jelas,

19april2009

-a woman who angry : dewi-

Menanti

Posted in Uncategorized on April 8, 2009 by Dewi

Ruangan yang hening. Dindingnya hatinya penuh puisi dan di sudutnya terpampang peta dunia ini. Ditemani green tea diatas mejanya yang tidak rapi, perempuan ini sibuk menulis tentang menanti.

****

Perempuan yang menanti hujan. Ia menanti hujan turun ke bumi.Wajahnya tidak tertunduk meskipun ia sedih. Dengan mata terpejam wajahnya menengadah ke langit, berharap tetes demi tetes air membasahi wajahnya yang terlanjur kering. Matahari membakar hatinya, membakar tubuhnya, membakar tanahnya. Segalanya telah tandus, bahkan ilalang pun tak sanggup hidup. Ia sudah tak tertidur entah kesekian hari. Ditangannya yang terkepal masih menyimpan segenggam biji jagung untuk disemai di kala hujan. Pikirannya selalu tentang ayam-ayamnya yang sudah tak mampu lagi berkokok karna lapar. Suaminya telah pergi ke negeri lain bermodalkan hasil rampasan penjualan anak perempuannya kepada seorang syekh pencinta poligami. Laki-laki itu tak tahan untuk menanti. Ia pergi meninggalkan perempuannya sendiri menanti hujan dengan hati yang kering dan ayam-ayamnya yang juga kering karna menanti

Perempuan yang menanti kekasihnya berlayar di negeri seberang. Duduk berlutut di tepi teluk. Menanti kapal demi kapal berlabuh. Menatap deburan ombak, berharap ada pesan dalam botol. Selendang hijau tanda cinta sang kekasih masih menghiasi lehernya yang dingin karena angin malam. Selendang itu makin lama makin hijau berlumut diterpa ombak. Sutranya merapuh serapuh perasaannya yang menanti. Jika tak ingat pesan neneknya untuk menanti lelaki itu menikahinya, mungkin ia akan pergi bersama laki-laki yang setiap berlabuh menghampirinya dan ingin mengajaknya berlayar. Hanya saja ia cinta kekasihnya yang dinanti. Cinta karena neneknya memaksa, laki-laki yang pergi itu banyak harta, dan neneknya berhutang pada laki-laki itu. Ia harus sabar menanti walau hatinya sudah tak sanggup menanti. Ia berharap tsunami terjadi, hingga neneknya mati atau dia yang mati, dan tak perlu lagi menanti.

Perempuan yang menanti kepastian cintanya. Setiap hari ke vihara berdoa pada sang dewa agar kekasihnya menjelaskan kepastian cintanya. Kekasihnya adalah laki-laki tua berwajah sederhana namun menggoda. Lelaki tua yang mencintai anaknya tapi tidak pada istrinya. Ia bersahaja, senang bercerita tentang cita-cita mulianya mengabdi pada bangsa. Ia sangat nasionalis, rela berkorban apa saja untuk negaranya, negara kita, Indonesia. Laki-laki itu sering berkata,” Jangankan setetes darah, nyawa pun akan ku korbankan untuk tanah air Indonesia tercinta”. Sayang, dia tak punya nyali berkorban untuk cintanya, untuk perempuan yang begitu dicintai dan mencintainya. Hingga perempuan dan cintanya ini benar-benar akan rela menunggu lelaki tua ini sepanjang masa. Setiap satu dupa dengan harapan yang sama: untuk cinta. Lalu ia sadar, kenapa harus berdoa pada sang dewa? Dewa tak bisa merasakan perasaannya sebagai perempuan yang menanti. Seharusnya lah dia berdoa pada sang Dewi.

Perempuan paling tua dan dewasa diantara yang lainnya. Ia sudah setengah abad berada di dunia. Ia seperti seorang perempuan yang lelah meski ia tak akan pernah lelah, berjuang untuk perempuan lainnya. Ia tidak sedang menanti, dia tidak pernah sedikitpun ingin menanti, karena ia selalu ingin berjuang dan meraih. Sebuah hasil tak akan berhasil dengan hanya menanti. Ia tak percaya penantian sebagai sebuah takdir. Ia terus berjuang, berjuang dan berjuang, hingga setiap sisi dunia menantikan untuk diperjuangkan olehnya. Seolah-olah dunia ini jadi manja karena dia ada. Kekerasan dimana-mana, diskriminasi masih mengancam setiap perempuan dunia. Untuk itulah ia selalu ada, cita-citanya mulia, untuk kesetaraan, keadilan dan perdamaian dunia.

Lalu, perempuan sang penulis ini. Ia menulis di panasnya malam Jakarta. Sepi saja, tak ada bintang-bintang melukis langit yang penuh asap akibat global warming. Ia sangat tidak percaya mitos, tapi saat ini ia sedang sangat menginginkan sebuah bintang jatuh. Mungkin saja ia sedang menanti, dan ia sedang tak ingin menjelaskan menanti apa, bagaimana, dan mengapa.

****

Perempuan ini pergi, ingin ke alam mimpi,

ia menanti,

pagi, mentari, dan…..

Le 9 Avril, 2009-Je ne sais pas quand

-Dewi-

Untukmu laki-laki ‘menyebalkan’

Posted in Uncategorized on Maret 28, 2009 by Dewi


Aku masih sebal

Pagi ini dan malam kemarin

sepertinya lanjutan dari siang, sore dan malam sebelum ini

denganmu,

mungkin dengan pertanyaanmu

yang tidak ….

belum aku selesaikan

kenapa sih kamu bertanya?

Aku sebal



Tidak denganmu

Ternyata denganku, bukan aku

Hanya dengan bahasa

kata-kata

kalimat

pernyataan

tanggapan

penguatan

Aku yang selalu kamu jawab

Dengan teori

Dengan filsafat

Senyuman dan tatapan menyebalkan

Aku tak mengerti

Kamu begitu menyebalkan



Lalu aku diam saja

Kamu gak tau rasanya jadi aku

Seorang perempuan

Aku bosan bicara ketertindasan

dan, Kamu tidak akan pernah tau

Pengalaman hidup menjadi seorang perempuan



Aku hanya ingin bercerita



Aku belum selesai dengan mu

Sedang tidak ingin selesai




You haunted me,

Since before Sunday, march 15, 7:03 am

Dewi

Tentang Penguniversalan Ketertindasan

Posted in Uncategorized on Maret 28, 2009 by Dewi

Aku percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. IMpossible : It’s Means possible.

Bagian 1:

Ada satu, dua, tiga bahkan seribu dan sejuta perempuan di dunia ini yang ‘bahagia’ dengan hidupnya. Bahagia menatap goa yang sama setiap harinya. Itulah dunia mereka, dimana hanya ada satu arah perspektif dalam dunia mereka. Mereka (perempuan goa itu) menjalani tiap detik hidup mereka dengan menatap goa yang sama. Goa yang di dindingnya terukir aturan-aturan baku tentang kehidupan. Tentang kodrat mereka yang harus memasak, mencuci, ‘melayani’ suami dan bersedia dipoligami.

Mereka terikat di dalam goa. Mereka tak terlepas dan bebas layaknya aku. Dewi dengan sejuta perspektif dan teori-teori tentang hidup ini.

Lalu, Dia (seorang laki-laki yang ‘menyebalkan’ :p) berpendapat bahwa perempuan goa itu bahagia dengan dunianya. Darimana dia tau? Bukankah laki-laki yang ‘menyebalkan’ ini tidak mengenal para perempuan goa ini? Pengalaman menjadi perempuan tidak akan bisa dirasakan oleh yang bukan perempuan. Menyimpulkan kebahagiaan seseorang hanya karena seseorang tersebut tidak mengeluh tidak dapat dipastikan 70% bukan? Monalisa Smile, sebuah film menakjubkan tentang kehidupan perempuan abad pertengahan menyatakan bahwa senyuman seorang perempuan mengandung sejuta makna. Dengan tersenyum bukan berarti ia sedang bahagia, tetapi bisa saja ia sedang terluka.

Perempuan yang berada di goa tidak bisa didefinisikan begitu saja dengan kata ‘bahagia’.


(to be continued….)


Sometimes, I hate to be a woman

Posted in Uncategorized on Maret 23, 2009 by Dewi

Menjadi perempuan.

Berdefinisi ganda, pertama perempuan dikategorikan kepada hal-hal yang sifatnya feminin. Lemah lembut, sensitif, irrational, penurut, pasif, dan emosional. Hal tersebut menjebak perempuan untuk harus selalu mampu mempertahankan sifat-sifat tersebut untuk bisa menjadi perempuan. Sifat- sifat ini selalu diasosiasikan dengan nilai-nilai sosial budaya yang berlaku di masyarakat. Perempuan (secara langsung ataupun tidak langsung) dilarang keluar malam, dilarang memiliki hak atas tubuhnya, dilarang berpolitik, dilarang memilih, dan dilarang untuk melarang. Larangan-larangan tidak penting yang selalu menjadikan perempuan sebagai the others seperti yang disebutkan Simone de Beauvoir dalam The Second Sex. Ini masih berlaku di banyak negara dalam banyak masyarakat dan dalam pikiran banyak individu yang mengakibatkan perempuan masih menempati sisi-sisi kehidupan yang memarginalkan mereka dari berbagai sisi kehidupan.

The Powerless of Woman

Kemarginalan perempuan ini disebabkan oleh ketidakpunyaan perempuan terhadap power. Ketidakpunyaan perempuan terhadap power ini berasal dari ketidakpunyaan perempuan terhadap kesempatan untuk meraih power. Kesempatan berlaku bagi setiap manusia, apapun jenis kelaminnya. Bill of Human rRghts dan Cedaw mendeklarasikan penguatan hak-hak untuk itu. Lalu kenapa perempuan masih yang termiskin, masih yang teraniaya, masih hanya dianggap sebagai ’seks’?. Hukum internasional tidak ada sangsinya. Sangsi diberikan hanya sebatas sangsi politis, kecaman, dan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan sosial dimana dalam ruang sosial nilai-nilai yang berlaku tidak berpihak pada perempuan.

Begitu juga dengan peraturan-peraturan langsung maupun tidak langsung, nilai-nilai sosial yang tidak rasional, norma-norma yang dikaitkan dengan moralitas yang diukur satu arah, mitos-mitos kuno dan modern tidak mampu dibuktikan secara science, semua terkait dengan penempatan posisi perempuan untuk selalu seperti ini. Perempuan untuk menerima ‘takdir’ sebagai perempuan. Takdir yang entah datang dari siapa, oleh siapa dan untuk siapa. Sangat tidak demokrasi sekali takdir ini. Bagaimana perempuan harus terjebak dalam situasi begini. Kecuali untuk perempuan yang tidak berkiblat pada demokrasi. Terserah Anda!

Hak-hak asasi manusia hanya dijadikan sebagai wacana. Sebagian besar negara menandatangani bill ini. Orang-orang berdiskusi mengenai ini, menyetujui konsep ini, menghargai bahwa setiap orang punya hak-hak sebagai manusia yang tidak bisa dirampas begitu saja oleh hal apapun. Namun, dalam situasi yang nyata, perempuan sebagai yang terjebak sebagai yang marginal tidak diberikan kesempatan, tidak dipilih, tidak dipedulikan ketika mereka berada pada situasi mengerti, mengetahui, memperjuangkan,dan mempertahankan apa yang telah menjadi hak mereka. Perempuan kembali harus menerima kekalahan dalam memperoleh kesempatan. Sebagian terus maju, sebagian berhenti, dan sebagian menoleh kebelakang: “Just love our destiny, What a pity!”

Ternyata tak ada hal nyata yang bisa disalahkan. Semua berpusat pada kepentingan masing-masing pihak. Untuk bertarung memperoleh kepentingan masing-masinglah mereka tidak mengandalkan kebanyakan perempuan. Mungkin perempuan bodoh, mungkin perempuan lemah, mungkin perempuan emosional, tapi yang pasti adalah perempuan tidak dipilih ketika ia memperoleh kesempatan untuk terlibat. Sebuah situasi yang tidak memercayakan suatu hal pada perempuan yang mengerti hak-haknya. Sebuah ancaman bagi sistem yang sedang berlangsung saat ini kah? Sehingga situasi harus defense terhadap perempuan untuk mencapai suatu posisi yang setara dalam berbagai segi kehidupan.

Perempuan seperti berada pada situasi unsecure ketika ia menjadi perempuan. Defenisi kedua dari menjadi perempuan adalah proses yang terus berlanjut, tanpa peduli bahwa takdir menjadi manusia yang bervagina dikonstruk sebagaimana gender feminin. Perempuan bebas memilih sifat-sifat yang ingin dia anut. Perempuan bebas memilih apapun yang akan membuat dia merasa nyaman hidup sebagai perempuan. Hanya saja dalam memilih hal-hal tersebut, perempuan dihadapkan pada pilihan yang tidak menyenangkan. Dimana sepertinya sudah ada takdir abadi dimuka bumi ini yang menetapkan garis-garis dimana perempuan tidak boleh lewat,dan selalu berada sebagaimana yang telah digariskan.

Hal yang butuh sebuah perjuangan yang panjang dan evolusi yang lama ketika garis itu ingin dihapuskan. Akan begitu banyak airmata, perjuangan kata-kata dan etika. Perempuan harus mampu bertahan, perempuan harus terus berjuang, perempuan harus merdeka untuk sebuah kenyaman hidup sebagai perempuan dalam situasi yang kebanyakan tidak berpihak kepada perempuan. Pertahanan butuh kekuatan, perjuangan butuh pengorbanan, dan kemerdekaan butuh pengakuan. Sometimes, i hate to be a woman because sometimes i didn’t get a change when a got my rights as a human in the sex of a woman.


March, 23th 2009

in the name of my sex, i am a woman


Dewi



Hal yang Tak Selesai (Tuhan)

Posted in Uncategorized on Maret 9, 2009 by Dewi

(inspired after read “Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai” by GM)

Aku tak mengerti.

Ku ingin aku mengerti.

Tuhan (sebuah bahasa)

Tuhan (sebuah kata)

Tuhan (huruf T U H A N): kata Yosie dan aku setuju

Tuhan (konsep) semua orang punya konsep tentang Tuhan, dan Aku?

Menginginkan Tuhan untuk hal-hal yang tak mampu aku selesaikan.

Tuhan (cinta) yang tak terjelaskan, yang tak sanggup aku defenisikan.

dan tentang Tuhan memang tak mampu (belum) aku selesaikan

Tea for Two: Jangan Ada Kekerasan atas Nama Cinta

Posted in Uncategorized on Februari 20, 2009 by Dewi

Tea for Two

Novel yang catchy. Hanya dengan membaca resensi halaman belakang novel ini, aku berhasil menuju kasir sebuah toko buku di Ambasador hanya dengan sekali pertimbangan. Anyway, niat sebelumnya aku pengen cari red hot dress, tapi belum menemukan yang beneran red and hot walaupun udah keliling Ambassador dan menyeberang ke ITC Kuningan :p.

Berikut penggalan resensi halaman belakang novel ini yang berhasil bikin aku terpikat:

“KDRT. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding. It could happen to you. It could happen to anybody. Inilah kisah yang menelanjangi sisi buruk pernikahan”.

Tea for Two, metropop karangan Clara NG ini pernah dimuat di Cerita Bersambung Kompas dari November 2008 sampai Februari 2009. Hanya saja lebih menyenangkan dibaca dalam satu novel daripada harus penasaran menunggu di Kompas setiap hari. Alurnya sangat menggoda, di bab awal telah diutarakan research question-nya. Sebuah tamparan Alan sang suami pada Sassy sang istri di hari kedua bulan madu mereka disertai teriakan “Dasar Pelacur!”.  Awalan yang sangat menarik dan membuat penasaran bukan?. Ya, inilah awal dari sistem KDRT yang akan berlangsung dirumah tangga tokoh utama novel ini.

Sassy, seorang perempuan mandiri, sukses, cantik, dan modern. Perempuan yang sukses membangun dan mengembangkan perusahaan miliknya yang bernama Tea for Two. Sejenis perusahaan perjodohan yang menawarkan jasa perjodohan bagi kaum lajang metropolis yang sibuk mengejar karir hingga melupakan konstruksi keharusan untuk menikah dan membangun keluarga bahagia. Life happily ever after dan kepercayaan akan cinta adalah hal standar yang dijual oleh Tea for Two kepada konsumennya. Mempertemukan dua hati yang terpisah untuk mengenal lebih dalam hingga pada akhirnya disatukan dalam ikrar pernikahan.

Well, talking about merried, aku teringat temanku, Dian si Mamih Puncak yang sedang melakukan research tentang kawin kontrak transnasional di kawasan Puncak. Intermezzo, dalam sebuah percakapan Yahoo Messanger, Dian menuliskan tentang defenisi family:

“Family” (famulus, familia) means domestic slave and familia is the total number of slaves belonging to one man – Friedrich Engels

Aku langsung kepikiran kekerasan atas nama cinta. Being mashocist just because i love you. Sebuah bentuk mashocism yang kadang tidak disadari, meskipun sadar akan hal tersebut tapi kadang tidak bisa melepaskan diri untuk sebuah rasionalitas cinta (means cinta yang rasional, berdasar atas pemikiran yang sehat, tidak menyakitkan baik psikis maupun psikologis).

Balik lagi ke Tea For Two, aku rasa mashocism Sassy sebagai tokoh utama yang mengalami KDRT sedikit lebayism. Diceritakan bahwa Sassy terperangkap lumayan lama dalam sistem KDRT yang dibangun oleh suaminya Alan. Berawal dari tamparan, tonjokan, sindiran, hinaan yang sangat menyakitkan, serta kata-kata kasar yang hampir setiap hari ditujukan Alan pada Sassy. Hanya dengan alasan bahwa Alan sangat mencintai Sassy, ia tidak boleh bergaul dengan teman-temannya, meninggalkan karirnya untuk memusatkan perhatian pada masalah rumah tangga, dilarang berdandan, selalu protes dengan model baju, model rambut, merek kopi, dan hal detail lainnya yang masuk kategori tidak penting untuk diributkan apalagi diakhiri dengan tamparan dan pukulan.

Dalam kasus ini, Sassy selalu bersabar dan mengalah. Bahkan ketika Sassy hamil hingga melahirkan pun Alan masih bersikap sama. Full of Violences. Sassy tidak pernah ditemani ke dokter kandungan, walaupun cuma satu kali, itupun berakhir dengan omelan Alan karena bosan menunggu terlalu lama. Ketika proses melahirkan pun Alan tidak hadir, hanya ada ketiga sahabatnya Naya, Rose, Carmanita dan ibunya.

Klimaks cerita ini berada pada saat-saat dimana Alan ketauan selingkuh dengan sekretaris kantornya bernama Malla. Setelah dengan segenap keberania Sassy bertemu dengan Malla, ternyata Alan lebih brengsek dari bayangan Sassy dan pembaca sekalian. Malla mengatakan bahwa Alan akan segera menceraikan istrinya karena istrinya sering selingkuh dengan laki-laki lain dan suka bergaya seperti pelacur. Damn!

Sassy yang sangat Mashocist akhirnya melemah pertahanan cintanya terhadap Alan. Ia kabur ke rumah sahabatnya Rose dan yang paling menyebalkan dari semua cerita adalah tindakan Sassy untuk memaafkan kembali Alan entah untuk yang kesekian kalinya. Hingga pada akhirnya dengan bantuan Rose, Sassy memergoki Alan dan selingkuhannya Malla sedang bermesraan di rumah mereka.

Sekilas mirip cerita sinetron Indonesia kebanyakan. Dimana perempuan tokoh utama selalu tersiksa dan tabah serta ikhlas dan berdoa bahwa suaminya akan kembali ke jalan yang benar dan mencintainya kembali. Hanya saja untuk bagian akhir Tea For Two menyajikan ending yang lebih menawan daripada cerita sinetron yang selalu diakhiri dengan life happily ever after. Sassy memutuskan untuk bercerai, didukung ibunya, ketiga sahabatnya dan komunitas Rumah Manis (komunitas perempuan korban KDRT), Sassy memulai menata kembali hidupnya dan karirnya.

Banyak fenomena menarik yang disajikan dalam novel ini. Bahwa KDRT layaknya narkoba, dimana sang korban akan selalu ketagihan untuk disakiti. Bahwa perasaan cinta yang biasanya dipertahankan bukanlah cinta yang sesungguhnya, tapi lebih kepada kecaduan pada konsep cinta yang ditawarkan oleh si pelaku KDRT. Sehingga sang korban akan ketagihan layaknya naik roller coster, penasaran dengan konsep cinta dan penyiksaan yang akan ditawarkan berikutnya. Di saat semua itu hilang, si korban akan merasa ada yang hilang dengan hidupnya, merasa kehilangan si penyiksa, namun sesungguhnya ini bukanlah perasaan takut kehilangan si penyiksa, tapi lebih kepada perasaan takut kehilangan diri sendiri. Diri sendiri yang pernah berbagi bersama, saling melengkapi dan bergantung dimana terdapat impian-impian kenangan manis dan romantis yang pernah dirasakan dulu.

Melepaskan diri dari hal ini adalah jalan terbaik, karena setiap orang punya potensi untuk mampu melengkapi dirinya sendiri. Seperti pada awal cerita, Sassy seorang perempuan mandiri, cantik, cerdas, dan sukses. Dia sudah lengkap sebagai dirinya sendiri dengan kasih sayang dan perhatian ketiga sahabatnya, Naya, Caranita, dan Rose juga ibunya yang selalu mendampinginya.

Lalu diakhir cerita aku berfikir, untuk apa pernikahan? (sambil teringat 10+1 alasan untuk tidak menikah versi Ayu Utami)

Toh tidak juga akan menjamin kebahagiaan.

Tetapi hal tersebut tergantung dengan siapa kita menikah, nah siapa yang sangka juga ketika orang yang dipikir seorang Mr. Right akan berubah menjadi Mr. Totally Wrong?

Hmm….Just Try!!!!


^_^

DEWI



Kisah Rok dan Celana Pendekku

Posted in Uncategorized on Oktober 4, 2008 by Dewi


Rokku ini warna-warni mirip pelangi, ada ungu, merah, jingga, biru, semuanya terpadu dalam satu motif yang menarik hati. Aku senang memakainya, ia membuatku nyaman, merasa cantik dan feminin. Kurasa memang itulah kesan dari sebuah rok: feminin. Disamping modelnya yang keren, rok cantik ini membuat aku merasa lebih eksotis sebagai perempuan Indonesia.

Aku memakainya saat reunian teman-teman SMA, ini rok favoritku. Rok selutut persis rok SMAku jaman bahela (FYI saat ini di SMAku sudah gak boleh lagi pake rok selutut, seragamnya ganti jadi gaya madrasah). Bedanya rok yang ini modelnya lebih mengembang, jadi enak buat jalan. Bedanya lagi rokku ini selalu menjadi pusat perhatian dan pembicaraan, lho bukannya mereka sering melihat aku memakai rok abu-abu jaman SMA dulu ya.

Ku kira setelah aku pulang rokku akan terbebas dari perhatian dan pembicaraan moral mereka. Rupanya seorang teman cowoku sms katanya, “tar jangan pake rok itu lagi ya, kalo bisa pake celana aja, biar lebih terjaga, gw gak rela lo di jadiin objek ma anak-anak”. Gila care amat ya, tapi buatku itu bukan care namanya tapi menambah deretan diskriminasi yang ditujukan kearahku. Lagian aku heran bukannya perempuan itu dikonstruk buat pake rok ya. Kan aku perempuan.

Mungkin disini perempuan sebagai objek itu biasa, makanya biar terjaga harus di tutup-tutupi. Tapi, kenapa perempuannya yang harus ditutup-tutupi, kenapa bukan pemikirannya aja yang ditutupi dengan pikiran yang positif. Kalau memang aku tampak seksi dengan rok itu, bukan hanya rok ku itu yang mengambil peran dalam image sebuah kata seksi, tapi ada juga aku sebagai perempuan yang seksi dan pemikiran orang terhadapku sehingga akan menimbulkan sebuah image “seksi”. Jadi itu bukan semata-mata salah rok itu.

Kisah ini nyaris sama dengan nasib celana pendekku. Ia tak terlalu pendek, bukan sejenis hotpants, ia hanya celana pendek selutut sama panjangnya dengan rok ku yang tadi. Celana pendek ku ini made in Indonesia. Bukan produk ekspor karna aku beli di pasar tradisional. Walaupun ia adalah produk lokal, tapi ia dilarang beredar kecuali di dalam rumah ketika sedang tidak ada tamu yang datang. Ketika bel rumah berbunyi aku harus tidak boleh tampak mengenakannya atau kakiku harus berlari ke kamar dan menggantinya dengan yang lebih “tertutup” katanya. Sayang sekali prinsipku kali ini adalah “my home is my right” rumahku adalah hak ku. Jadi aku bebas mengenakannya di rumahku Untung saja aku tidak memberlakukan peraturan kalau hendak bertamu kerumahku anda diwajibkan memakai hotpants atau rok mini.

Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan melihat celana pendekku. Aku nyaman dengannya dan aku toh tidak mengganggu mereka dengan celana pendek ku itu. Kalaupun mereka merasa terganggu itu berarti mereka sendiri yang diganggu oleh pikiran sendiri. Celana pendek kan tidak menyebabkan kelaparan dan kemiskinan?

Prinsip “my home is my right” ku rupanya ada yang ingin mengganggu kedaulatannya. Aku tau mereka tidak menyukai celana pendekku ini. Nenekku yang konservatif datang siang ini langsung menginvansi ke kamarku dimana aku sedang ber online-online ria ditemani celana pendek yang aku beli di pasar tradisional itu. Aku sudah sangat tahu sebelumnya kalau ia tak menyukai celana pendekku ini, tapi kali ini ia melakukan penyerangan dengan dalih “tar malem kamu musti datang yak ke pertemuan keluarga, tapi jangan pake celana pendek, pake rok, rok panjang”. Wah dressode nih, tapi kayaknya cuma aku yang dikasih dresscode, hanya karena aku yang punya celana pendek dan tidak berkerudung pula.

Ada yang salah ya dengan perempuan yang memakai rok atau celana pendek. Walaupun aku sangat tau jawabannya, hanya saja aku tidak begitu memiliki kemampuan untuk membuat aku dimengerti. Karna aku lebih bersifat tidak peduli.

Life report from Kampuang Nan Jauah di Mato