Bukan Untuk Ibu Kartini

Kau selalu mampu menyayangi ku, sejak dan kapan saja aku tak ada untukmu dalam nyata. Ku pikir sejak aku pergi darimu, kau tak akan pernah lagi mengenalku. Aku anakmu yang sombong yang tak sanggup hidup dalam kenyataanmu. Aku benci kenapa kau masih bisa bertahan dengan pria itu. Dia telah menyakitimu lebih dari apapun yang ku bayangkan sangat menyakitkan di bumi ini, aku berlebihan. Aku tak pernah berani bilang padamu tinggalkan saja pria itu, kau tak pantas hidup disampingnya. Tapi aku punya kebodohan yang sangat untuk tidak berani menjamin kebahagiaanmu. Kau mungkin punya definisi dan cara berbeda mengartikan makna hidupmu dan kebahagiaan dalam kata-katamu. Aku merasakan kau sangat menghayati arti pengorbanan. Untuk ku, untuk setiap orang yang datang padamu atas nama kesedihan, mendeskripsikan hidup dengan sangat getir. Ku tau kau akan selalu memberikan tanganmu yang ku tau tak selalu kuat menggenggam tangan mereka.

Aku tak akan pernah mampu menjadi seperti mu. Menggantikan tempatmu menjadi seperti dirimu, sekarang atau suatu saat nanti sungguh aku tak mungkin. Aku tak pernah mengerti dan memiliki definisi tentang cinta dan pengorbanan. Cintaku hanya tentang kesenangan, cintaku membebaskan, aku mencintai kebebasan sesempit ini. Aku tak begitu tau dirimu bisa lebih bebas dariku dengan apa yang kau jalani dengan tulus. Lagi-lagi aku tak mengerti dan tak mau mengartikulasikan ketulusan. Aku tak menyesal meninggalkanmu karna aku tau aku belum mampu membawa mu kemanapun aku berlari. Aku juga tak yakin kau akan menjalani keindahan bersamaku. Aku menyadari kau sangat tau jiwaku lebih dari apa dan siapapun. Setiap kejahatanku, kegalauanku yang kutau tak semua orang jenius sekalipun mengerti. Meski kau tak pernah mengenal apa yang selalu kupertanyakan dan setiap detik keraguanku dan kebencianku terhadap setiap hal yang mengganggu keakuanku.

Aku sangat ingin menangis saat merindukanmu, tapi ku ingat kau tak pernah menangis. Menghadapi apapun, hanya saja tentang kematian, ku pernah tak segaja melihat wajahmu setelah menangis, tapi kau selalu tersenyum ketika melihatku yang takut pada suasana kematian. Kau akan menjauhkan ku dari setiap ketakutanku yang tidak rasional bagi kebanyakan pikiran. Aku tak sepenuhnya ada dalam bayangan impianmu, aku mencari diriku sendiri yang entah dimana aku temukan kepastiannya, tak ada yang pasti dan abadi di bumi ini. Aku tak selalu mengikuti jalanmu, karna kau tak memberiku jalan yang tunggal, kau membiarkanku berkelana di dunia yang tidak jelas pengertiannya bagiku. Kau memintaku dan aku tidak pernah menurutimu lalu kau akan ikut dengan setiap langkahku dengan aura bahagia. Mengapa kau selalu sehebat itu? Aku tak sanggup lagi mendefinisikanmu hingga aku akhirnya selalu mempertanyakanmu.

Bagaimana kalau aku membuatkanmu cheezecake? aku tau kau tak segila aku yang tergila-gila dengan sepotong cheeze cake. Lalu aku berfikir kenapa aku selalu berfikir akan memberikanmu apa yang menurutku menyenangkan. Aku seperti tak pernah memikirkan dan setiap kubertanya keinginanmu adalah keinginanku. Kau selalu begitu. Kau selalu seperti menedikasikan hidupmu untuk hidupku. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu tapi kau telah menyatukan dirimu dengan diriku. Aku seperti jahat dengan memisahkan aku denganmu. Kau bukan bebanku, aku juga bukan, kita menyatu. Aku tak ingin di dahulukan tapi dunia menuntut kita untuk begitu. Kau bahkan tak sedikitpun memaksaku. Tak pernah dan ku yakin tak akan pernah. Sekali lagi aku ragu benarkan aku menyatu denganmu? Aku takut kau tersiksa menjadi bagian ku.Tapi ketakutanku membuatku seperti tak menginginkanmu lagi. Aku sangat menginginkanmu. Tapi sepertinya lagi keinginanku mengisyaratkan satu bait hasratku pernah tak menginginkanmu. Aku sungguh tak bisa menggambarkan hatiku. Kata-kata selalu mempermainkan dan otakku selalu memaknakan. Dan aku akan mati jika kau tak mengikutiku.

Lupakan saja!

Aku bisa lebih mencintaimu, mencintai kita yang menyatu oleh Tuhan dan siapun yang mampu menjadikan begitu

hanya sosok ilusi
pagi hari, 18 mei 2009

Tinggalkan Balasan