Arsip untuk April, 2009

Mengaborsi Cinta

Posted in Uncategorized on April 26, 2009 by Dewi

Dalam salah satu definisi dari sekian banyak definisi cinta yang tak selesai terdefinisi.

Mencintai. Seseorang:Dia. Mencintai untuk cinta.

Masokisme atas nama cinta; Mencintai menunggu; Mencintai mengganggu; Mencintai cemburu; Mencintai ragu; Mencintai selalu.

Mencari sejuta alasan untuk bertemu; untuk mengganggu; untuk merindu; untuk merayu;

Pilu, sendu, biru. Agar cinta hadir selalu atas nama rindu.

Tidak suka; mencintai dengan cinta. Memikirkan filosofi tentang cinta. Mempertanyakan kenapa harus jatuh cinta. Memberikan sebagian jiwa, mempersembahkan untuk cinta. Membuat cinta menjadi cinta. Merelakan cinta untuk mencinta.

Ingin mengaborsi cinta. Membuangnya ke ujung dunia. Memusnahkannya dari bahasa. Menolaknya sebagai sebuah rasa. Dan cinta akan masih saja ada di setiap rasa; anggur, coklat, keju, strawberry, lemon, dan mangga

Aku tak ingin mengaborsi cinta.

Sepotong Cerita Menjadi Seorang Perempuan yang Hidup di Indonesia

Posted in Uncategorized on April 19, 2009 by Dewi

Menjadi perempuan di Indonesia menurutku tidak bisa memiliki kebebasan untuk bisa mengekspresikan diri, terlalu banyak norma dan nilai tidak penting yang berujung pada ketidaknyamanan dan situasi ‘unsecure’ terhadap diri perempuan. Pernahkah seorang perempuan merasa sangat amat comfortable ketika ia berjalan sendirian. Seberapa banyakkah itu? aku tidak percaya persentase yang merasa secure akan lebih banyak daripada yang tidak? Kenapa aku begitu yakin?Karna aku tau rasanya jadi perempuan. Selalu saja rentan terhadap tindak pelecehan. Digodain cowok2 brengsek yg tidak peduli terhadap hak asasi manusia. Dicopet penjahat, dirampok, diperkosa, dibunuh, dll yg lebih kejam. Apa yang bisa dilakukan negara terhadap semua ini??? (teringat kesimpulan skripsiku “apa gunanya negara bagi perempuan?”dalam kasus ini negara juga ternyata tidak berguna bagi perempuan, sama dengan kasus female genital mutilation di Sierra Leone)


Hukum.

Hukum tertulis sudah berperspektif perempuan dengan adanya DUHAM dan CEDAW. Namun, pelaksanaannya seringkali tidak berperspektif keadilan dan kesetaraan. Seberapa banyak orang yang peduli ketika seorang perempuan mendapat diskriminasi? Seberapa banyak orang yang akan melakukan aksi? Seberapa akan berhasilkah aksi tersebut? Negara melakukan apa untuk kasus-kasus personal berupa tindak diskriminasi terhadap perempuan? Terkadang masalah yang menyangkut kepentingan umum seluruh warga negara saja (baca pemilu 2009) tidak sepenuhnya mampu di urus dengan adil oleh negara: gw dan banyak rakyat indonesia lainnya gak terdaftar di DPT ).


Aku sedang kesal hidup sebagai perempuan Indonesia. Pernah merasakan beberapa hari hidup sebagai perempuan di Singapura. Negara ini lebih baik melindungi perempuannya. Aku merasa secure berjalan sendirian, naik taksi sendirian malam hari di negara yang bukan negaraku, dan aku tidak tau jalan. Aku sangat berharap punya cukup akses dan power untuk mewujudkan situasi yang secure bagi aku sebagai perempuan Indonesia dan seluruh perempuan yang merasakan hal yang sama.


curhatan gak jelas,

19april2009

-a woman who angry : dewi-

Menanti

Posted in Uncategorized on April 8, 2009 by Dewi

Ruangan yang hening. Dindingnya hatinya penuh puisi dan di sudutnya terpampang peta dunia ini. Ditemani green tea diatas mejanya yang tidak rapi, perempuan ini sibuk menulis tentang menanti.

****

Perempuan yang menanti hujan. Ia menanti hujan turun ke bumi.Wajahnya tidak tertunduk meskipun ia sedih. Dengan mata terpejam wajahnya menengadah ke langit, berharap tetes demi tetes air membasahi wajahnya yang terlanjur kering. Matahari membakar hatinya, membakar tubuhnya, membakar tanahnya. Segalanya telah tandus, bahkan ilalang pun tak sanggup hidup. Ia sudah tak tertidur entah kesekian hari. Ditangannya yang terkepal masih menyimpan segenggam biji jagung untuk disemai di kala hujan. Pikirannya selalu tentang ayam-ayamnya yang sudah tak mampu lagi berkokok karna lapar. Suaminya telah pergi ke negeri lain bermodalkan hasil rampasan penjualan anak perempuannya kepada seorang syekh pencinta poligami. Laki-laki itu tak tahan untuk menanti. Ia pergi meninggalkan perempuannya sendiri menanti hujan dengan hati yang kering dan ayam-ayamnya yang juga kering karna menanti

Perempuan yang menanti kekasihnya berlayar di negeri seberang. Duduk berlutut di tepi teluk. Menanti kapal demi kapal berlabuh. Menatap deburan ombak, berharap ada pesan dalam botol. Selendang hijau tanda cinta sang kekasih masih menghiasi lehernya yang dingin karena angin malam. Selendang itu makin lama makin hijau berlumut diterpa ombak. Sutranya merapuh serapuh perasaannya yang menanti. Jika tak ingat pesan neneknya untuk menanti lelaki itu menikahinya, mungkin ia akan pergi bersama laki-laki yang setiap berlabuh menghampirinya dan ingin mengajaknya berlayar. Hanya saja ia cinta kekasihnya yang dinanti. Cinta karena neneknya memaksa, laki-laki yang pergi itu banyak harta, dan neneknya berhutang pada laki-laki itu. Ia harus sabar menanti walau hatinya sudah tak sanggup menanti. Ia berharap tsunami terjadi, hingga neneknya mati atau dia yang mati, dan tak perlu lagi menanti.

Perempuan yang menanti kepastian cintanya. Setiap hari ke vihara berdoa pada sang dewa agar kekasihnya menjelaskan kepastian cintanya. Kekasihnya adalah laki-laki tua berwajah sederhana namun menggoda. Lelaki tua yang mencintai anaknya tapi tidak pada istrinya. Ia bersahaja, senang bercerita tentang cita-cita mulianya mengabdi pada bangsa. Ia sangat nasionalis, rela berkorban apa saja untuk negaranya, negara kita, Indonesia. Laki-laki itu sering berkata,” Jangankan setetes darah, nyawa pun akan ku korbankan untuk tanah air Indonesia tercinta”. Sayang, dia tak punya nyali berkorban untuk cintanya, untuk perempuan yang begitu dicintai dan mencintainya. Hingga perempuan dan cintanya ini benar-benar akan rela menunggu lelaki tua ini sepanjang masa. Setiap satu dupa dengan harapan yang sama: untuk cinta. Lalu ia sadar, kenapa harus berdoa pada sang dewa? Dewa tak bisa merasakan perasaannya sebagai perempuan yang menanti. Seharusnya lah dia berdoa pada sang Dewi.

Perempuan paling tua dan dewasa diantara yang lainnya. Ia sudah setengah abad berada di dunia. Ia seperti seorang perempuan yang lelah meski ia tak akan pernah lelah, berjuang untuk perempuan lainnya. Ia tidak sedang menanti, dia tidak pernah sedikitpun ingin menanti, karena ia selalu ingin berjuang dan meraih. Sebuah hasil tak akan berhasil dengan hanya menanti. Ia tak percaya penantian sebagai sebuah takdir. Ia terus berjuang, berjuang dan berjuang, hingga setiap sisi dunia menantikan untuk diperjuangkan olehnya. Seolah-olah dunia ini jadi manja karena dia ada. Kekerasan dimana-mana, diskriminasi masih mengancam setiap perempuan dunia. Untuk itulah ia selalu ada, cita-citanya mulia, untuk kesetaraan, keadilan dan perdamaian dunia.

Lalu, perempuan sang penulis ini. Ia menulis di panasnya malam Jakarta. Sepi saja, tak ada bintang-bintang melukis langit yang penuh asap akibat global warming. Ia sangat tidak percaya mitos, tapi saat ini ia sedang sangat menginginkan sebuah bintang jatuh. Mungkin saja ia sedang menanti, dan ia sedang tak ingin menjelaskan menanti apa, bagaimana, dan mengapa.

****

Perempuan ini pergi, ingin ke alam mimpi,

ia menanti,

pagi, mentari, dan…..

Le 9 Avril, 2009-Je ne sais pas quand

-Dewi-