Ruangan yang hening. Dindingnya hatinya penuh puisi dan di sudutnya terpampang peta dunia ini. Ditemani green tea diatas mejanya yang tidak rapi, perempuan ini sibuk menulis tentang menanti.
****
Perempuan yang menanti hujan. Ia menanti hujan turun ke bumi.Wajahnya tidak tertunduk meskipun ia sedih. Dengan mata terpejam wajahnya menengadah ke langit, berharap tetes demi tetes air membasahi wajahnya yang terlanjur kering. Matahari membakar hatinya, membakar tubuhnya, membakar tanahnya. Segalanya telah tandus, bahkan ilalang pun tak sanggup hidup. Ia sudah tak tertidur entah kesekian hari. Ditangannya yang terkepal masih menyimpan segenggam biji jagung untuk disemai di kala hujan. Pikirannya selalu tentang ayam-ayamnya yang sudah tak mampu lagi berkokok karna lapar. Suaminya telah pergi ke negeri lain bermodalkan hasil rampasan penjualan anak perempuannya kepada seorang syekh pencinta poligami. Laki-laki itu tak tahan untuk menanti. Ia pergi meninggalkan perempuannya sendiri menanti hujan dengan hati yang kering dan ayam-ayamnya yang juga kering karna menanti
Perempuan yang menanti kekasihnya berlayar di negeri seberang. Duduk berlutut di tepi teluk. Menanti kapal demi kapal berlabuh. Menatap deburan ombak, berharap ada pesan dalam botol. Selendang hijau tanda cinta sang kekasih masih menghiasi lehernya yang dingin karena angin malam. Selendang itu makin lama makin hijau berlumut diterpa ombak. Sutranya merapuh serapuh perasaannya yang menanti. Jika tak ingat pesan neneknya untuk menanti lelaki itu menikahinya, mungkin ia akan pergi bersama laki-laki yang setiap berlabuh menghampirinya dan ingin mengajaknya berlayar. Hanya saja ia cinta kekasihnya yang dinanti. Cinta karena neneknya memaksa, laki-laki yang pergi itu banyak harta, dan neneknya berhutang pada laki-laki itu. Ia harus sabar menanti walau hatinya sudah tak sanggup menanti. Ia berharap tsunami terjadi, hingga neneknya mati atau dia yang mati, dan tak perlu lagi menanti.
Perempuan yang menanti kepastian cintanya. Setiap hari ke vihara berdoa pada sang dewa agar kekasihnya menjelaskan kepastian cintanya. Kekasihnya adalah laki-laki tua berwajah sederhana namun menggoda. Lelaki tua yang mencintai anaknya tapi tidak pada istrinya. Ia bersahaja, senang bercerita tentang cita-cita mulianya mengabdi pada bangsa. Ia sangat nasionalis, rela berkorban apa saja untuk negaranya, negara kita, Indonesia. Laki-laki itu sering berkata,” Jangankan setetes darah, nyawa pun akan ku korbankan untuk tanah air Indonesia tercinta”. Sayang, dia tak punya nyali berkorban untuk cintanya, untuk perempuan yang begitu dicintai dan mencintainya. Hingga perempuan dan cintanya ini benar-benar akan rela menunggu lelaki tua ini sepanjang masa. Setiap satu dupa dengan harapan yang sama: untuk cinta. Lalu ia sadar, kenapa harus berdoa pada sang dewa? Dewa tak bisa merasakan perasaannya sebagai perempuan yang menanti. Seharusnya lah dia berdoa pada sang Dewi.
Perempuan paling tua dan dewasa diantara yang lainnya. Ia sudah setengah abad berada di dunia. Ia seperti seorang perempuan yang lelah meski ia tak akan pernah lelah, berjuang untuk perempuan lainnya. Ia tidak sedang menanti, dia tidak pernah sedikitpun ingin menanti, karena ia selalu ingin berjuang dan meraih. Sebuah hasil tak akan berhasil dengan hanya menanti. Ia tak percaya penantian sebagai sebuah takdir. Ia terus berjuang, berjuang dan berjuang, hingga setiap sisi dunia menantikan untuk diperjuangkan olehnya. Seolah-olah dunia ini jadi manja karena dia ada. Kekerasan dimana-mana, diskriminasi masih mengancam setiap perempuan dunia. Untuk itulah ia selalu ada, cita-citanya mulia, untuk kesetaraan, keadilan dan perdamaian dunia.
Lalu, perempuan sang penulis ini. Ia menulis di panasnya malam Jakarta. Sepi saja, tak ada bintang-bintang melukis langit yang penuh asap akibat global warming. Ia sangat tidak percaya mitos, tapi saat ini ia sedang sangat menginginkan sebuah bintang jatuh. Mungkin saja ia sedang menanti, dan ia sedang tak ingin menjelaskan menanti apa, bagaimana, dan mengapa.
****
Perempuan ini pergi, ingin ke alam mimpi,
ia menanti,
pagi, mentari, dan…..
Le 9 Avril, 2009-Je ne sais pas quand
-Dewi-