Tentang Penguniversalan Ketertindasan

Aku percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. IMpossible : It’s Means possible.

Bagian 1:

Ada satu, dua, tiga bahkan seribu dan sejuta perempuan di dunia ini yang ‘bahagia’ dengan hidupnya. Bahagia menatap goa yang sama setiap harinya. Itulah dunia mereka, dimana hanya ada satu arah perspektif dalam dunia mereka. Mereka (perempuan goa itu) menjalani tiap detik hidup mereka dengan menatap goa yang sama. Goa yang di dindingnya terukir aturan-aturan baku tentang kehidupan. Tentang kodrat mereka yang harus memasak, mencuci, ‘melayani’ suami dan bersedia dipoligami.

Mereka terikat di dalam goa. Mereka tak terlepas dan bebas layaknya aku. Dewi dengan sejuta perspektif dan teori-teori tentang hidup ini.

Lalu, Dia (seorang laki-laki yang ‘menyebalkan’ :p) berpendapat bahwa perempuan goa itu bahagia dengan dunianya. Darimana dia tau? Bukankah laki-laki yang ‘menyebalkan’ ini tidak mengenal para perempuan goa ini? Pengalaman menjadi perempuan tidak akan bisa dirasakan oleh yang bukan perempuan. Menyimpulkan kebahagiaan seseorang hanya karena seseorang tersebut tidak mengeluh tidak dapat dipastikan 70% bukan? Monalisa Smile, sebuah film menakjubkan tentang kehidupan perempuan abad pertengahan menyatakan bahwa senyuman seorang perempuan mengandung sejuta makna. Dengan tersenyum bukan berarti ia sedang bahagia, tetapi bisa saja ia sedang terluka.

Perempuan yang berada di goa tidak bisa didefinisikan begitu saja dengan kata ‘bahagia’.


(to be continued….)


Tinggalkan Balasan