Menjadi perempuan.
Berdefinisi ganda, pertama perempuan dikategorikan kepada hal-hal yang sifatnya feminin. Lemah lembut, sensitif, irrational, penurut, pasif, dan emosional. Hal tersebut menjebak perempuan untuk harus selalu mampu mempertahankan sifat-sifat tersebut untuk bisa menjadi perempuan. Sifat- sifat ini selalu diasosiasikan dengan nilai-nilai sosial budaya yang berlaku di masyarakat. Perempuan (secara langsung ataupun tidak langsung) dilarang keluar malam, dilarang memiliki hak atas tubuhnya, dilarang berpolitik, dilarang memilih, dan dilarang untuk melarang. Larangan-larangan tidak penting yang selalu menjadikan perempuan sebagai the others seperti yang disebutkan Simone de Beauvoir dalam The Second Sex. Ini masih berlaku di banyak negara dalam banyak masyarakat dan dalam pikiran banyak individu yang mengakibatkan perempuan masih menempati sisi-sisi kehidupan yang memarginalkan mereka dari berbagai sisi kehidupan.
The Powerless of Woman
Kemarginalan perempuan ini disebabkan oleh ketidakpunyaan perempuan terhadap power. Ketidakpunyaan perempuan terhadap power ini berasal dari ketidakpunyaan perempuan terhadap kesempatan untuk meraih power. Kesempatan berlaku bagi setiap manusia, apapun jenis kelaminnya. Bill of Human rRghts dan Cedaw mendeklarasikan penguatan hak-hak untuk itu. Lalu kenapa perempuan masih yang termiskin, masih yang teraniaya, masih hanya dianggap sebagai ’seks’?. Hukum internasional tidak ada sangsinya. Sangsi diberikan hanya sebatas sangsi politis, kecaman, dan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan sosial dimana dalam ruang sosial nilai-nilai yang berlaku tidak berpihak pada perempuan.
Begitu juga dengan peraturan-peraturan langsung maupun tidak langsung, nilai-nilai sosial yang tidak rasional, norma-norma yang dikaitkan dengan moralitas yang diukur satu arah, mitos-mitos kuno dan modern tidak mampu dibuktikan secara science, semua terkait dengan penempatan posisi perempuan untuk selalu seperti ini. Perempuan untuk menerima ‘takdir’ sebagai perempuan. Takdir yang entah datang dari siapa, oleh siapa dan untuk siapa. Sangat tidak demokrasi sekali takdir ini. Bagaimana perempuan harus terjebak dalam situasi begini. Kecuali untuk perempuan yang tidak berkiblat pada demokrasi. Terserah Anda!
Hak-hak asasi manusia hanya dijadikan sebagai wacana. Sebagian besar negara menandatangani bill ini. Orang-orang berdiskusi mengenai ini, menyetujui konsep ini, menghargai bahwa setiap orang punya hak-hak sebagai manusia yang tidak bisa dirampas begitu saja oleh hal apapun. Namun, dalam situasi yang nyata, perempuan sebagai yang terjebak sebagai yang marginal tidak diberikan kesempatan, tidak dipilih, tidak dipedulikan ketika mereka berada pada situasi mengerti, mengetahui, memperjuangkan,dan mempertahankan apa yang telah menjadi hak mereka. Perempuan kembali harus menerima kekalahan dalam memperoleh kesempatan. Sebagian terus maju, sebagian berhenti, dan sebagian menoleh kebelakang: “Just love our destiny, What a pity!”
Ternyata tak ada hal nyata yang bisa disalahkan. Semua berpusat pada kepentingan masing-masing pihak. Untuk bertarung memperoleh kepentingan masing-masinglah mereka tidak mengandalkan kebanyakan perempuan. Mungkin perempuan bodoh, mungkin perempuan lemah, mungkin perempuan emosional, tapi yang pasti adalah perempuan tidak dipilih ketika ia memperoleh kesempatan untuk terlibat. Sebuah situasi yang tidak memercayakan suatu hal pada perempuan yang mengerti hak-haknya. Sebuah ancaman bagi sistem yang sedang berlangsung saat ini kah? Sehingga situasi harus defense terhadap perempuan untuk mencapai suatu posisi yang setara dalam berbagai segi kehidupan.
Perempuan seperti berada pada situasi unsecure ketika ia menjadi perempuan. Defenisi kedua dari menjadi perempuan adalah proses yang terus berlanjut, tanpa peduli bahwa takdir menjadi manusia yang bervagina dikonstruk sebagaimana gender feminin. Perempuan bebas memilih sifat-sifat yang ingin dia anut. Perempuan bebas memilih apapun yang akan membuat dia merasa nyaman hidup sebagai perempuan. Hanya saja dalam memilih hal-hal tersebut, perempuan dihadapkan pada pilihan yang tidak menyenangkan. Dimana sepertinya sudah ada takdir abadi dimuka bumi ini yang menetapkan garis-garis dimana perempuan tidak boleh lewat,dan selalu berada sebagaimana yang telah digariskan.
Hal yang butuh sebuah perjuangan yang panjang dan evolusi yang lama ketika garis itu ingin dihapuskan. Akan begitu banyak airmata, perjuangan kata-kata dan etika. Perempuan harus mampu bertahan, perempuan harus terus berjuang, perempuan harus merdeka untuk sebuah kenyaman hidup sebagai perempuan dalam situasi yang kebanyakan tidak berpihak kepada perempuan. Pertahanan butuh kekuatan, perjuangan butuh pengorbanan, dan kemerdekaan butuh pengakuan. Sometimes, i hate to be a woman because sometimes i didn’t get a change when a got my rights as a human in the sex of a woman.
March, 23th 2009
in the name of my sex, i am a woman
Dewi