Tea for Two: Jangan Ada Kekerasan atas Nama Cinta
Tea for Two
Novel yang catchy. Hanya dengan membaca resensi halaman belakang novel ini, aku berhasil menuju kasir sebuah toko buku di Ambasador hanya dengan sekali pertimbangan. Anyway, niat sebelumnya aku pengen cari red hot dress, tapi belum menemukan yang beneran red and hot walaupun udah keliling Ambassador dan menyeberang ke ITC Kuningan :p.
Berikut penggalan resensi halaman belakang novel ini yang berhasil bikin aku terpikat:
“KDRT. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Semuanya diawali dengan romantisme yang menggebu dan berakhir dengan kekejaman tiada banding. It could happen to you. It could happen to anybody. Inilah kisah yang menelanjangi sisi buruk pernikahan”.
Tea for Two, metropop karangan Clara NG ini pernah dimuat di Cerita Bersambung Kompas dari November 2008 sampai Februari 2009. Hanya saja lebih menyenangkan dibaca dalam satu novel daripada harus penasaran menunggu di Kompas setiap hari. Alurnya sangat menggoda, di bab awal telah diutarakan research question-nya. Sebuah tamparan Alan sang suami pada Sassy sang istri di hari kedua bulan madu mereka disertai teriakan “Dasar Pelacur!”. Awalan yang sangat menarik dan membuat penasaran bukan?. Ya, inilah awal dari sistem KDRT yang akan berlangsung dirumah tangga tokoh utama novel ini.
Sassy, seorang perempuan mandiri, sukses, cantik, dan modern. Perempuan yang sukses membangun dan mengembangkan perusahaan miliknya yang bernama Tea for Two. Sejenis perusahaan perjodohan yang menawarkan jasa perjodohan bagi kaum lajang metropolis yang sibuk mengejar karir hingga melupakan konstruksi keharusan untuk menikah dan membangun keluarga bahagia. Life happily ever after dan kepercayaan akan cinta adalah hal standar yang dijual oleh Tea for Two kepada konsumennya. Mempertemukan dua hati yang terpisah untuk mengenal lebih dalam hingga pada akhirnya disatukan dalam ikrar pernikahan.
Well, talking about merried, aku teringat temanku, Dian si Mamih Puncak yang sedang melakukan research tentang kawin kontrak transnasional di kawasan Puncak. Intermezzo, dalam sebuah percakapan Yahoo Messanger, Dian menuliskan tentang defenisi family:
“Family” (famulus, familia) means domestic slave and familia is the total number of slaves belonging to one man – Friedrich Engels
Aku langsung kepikiran kekerasan atas nama cinta. Being mashocist just because i love you. Sebuah bentuk mashocism yang kadang tidak disadari, meskipun sadar akan hal tersebut tapi kadang tidak bisa melepaskan diri untuk sebuah rasionalitas cinta (means cinta yang rasional, berdasar atas pemikiran yang sehat, tidak menyakitkan baik psikis maupun psikologis).
Balik lagi ke Tea For Two, aku rasa mashocism Sassy sebagai tokoh utama yang mengalami KDRT sedikit lebayism. Diceritakan bahwa Sassy terperangkap lumayan lama dalam sistem KDRT yang dibangun oleh suaminya Alan. Berawal dari tamparan, tonjokan, sindiran, hinaan yang sangat menyakitkan, serta kata-kata kasar yang hampir setiap hari ditujukan Alan pada Sassy. Hanya dengan alasan bahwa Alan sangat mencintai Sassy, ia tidak boleh bergaul dengan teman-temannya, meninggalkan karirnya untuk memusatkan perhatian pada masalah rumah tangga, dilarang berdandan, selalu protes dengan model baju, model rambut, merek kopi, dan hal detail lainnya yang masuk kategori tidak penting untuk diributkan apalagi diakhiri dengan tamparan dan pukulan.
Dalam kasus ini, Sassy selalu bersabar dan mengalah. Bahkan ketika Sassy hamil hingga melahirkan pun Alan masih bersikap sama. Full of Violences. Sassy tidak pernah ditemani ke dokter kandungan, walaupun cuma satu kali, itupun berakhir dengan omelan Alan karena bosan menunggu terlalu lama. Ketika proses melahirkan pun Alan tidak hadir, hanya ada ketiga sahabatnya Naya, Rose, Carmanita dan ibunya.
Klimaks cerita ini berada pada saat-saat dimana Alan ketauan selingkuh dengan sekretaris kantornya bernama Malla. Setelah dengan segenap keberania Sassy bertemu dengan Malla, ternyata Alan lebih brengsek dari bayangan Sassy dan pembaca sekalian. Malla mengatakan bahwa Alan akan segera menceraikan istrinya karena istrinya sering selingkuh dengan laki-laki lain dan suka bergaya seperti pelacur. Damn!
Sassy yang sangat Mashocist akhirnya melemah pertahanan cintanya terhadap Alan. Ia kabur ke rumah sahabatnya Rose dan yang paling menyebalkan dari semua cerita adalah tindakan Sassy untuk memaafkan kembali Alan entah untuk yang kesekian kalinya. Hingga pada akhirnya dengan bantuan Rose, Sassy memergoki Alan dan selingkuhannya Malla sedang bermesraan di rumah mereka.
Sekilas mirip cerita sinetron Indonesia kebanyakan. Dimana perempuan tokoh utama selalu tersiksa dan tabah serta ikhlas dan berdoa bahwa suaminya akan kembali ke jalan yang benar dan mencintainya kembali. Hanya saja untuk bagian akhir Tea For Two menyajikan ending yang lebih menawan daripada cerita sinetron yang selalu diakhiri dengan life happily ever after. Sassy memutuskan untuk bercerai, didukung ibunya, ketiga sahabatnya dan komunitas Rumah Manis (komunitas perempuan korban KDRT), Sassy memulai menata kembali hidupnya dan karirnya.
Banyak fenomena menarik yang disajikan dalam novel ini. Bahwa KDRT layaknya narkoba, dimana sang korban akan selalu ketagihan untuk disakiti. Bahwa perasaan cinta yang biasanya dipertahankan bukanlah cinta yang sesungguhnya, tapi lebih kepada kecaduan pada konsep cinta yang ditawarkan oleh si pelaku KDRT. Sehingga sang korban akan ketagihan layaknya naik roller coster, penasaran dengan konsep cinta dan penyiksaan yang akan ditawarkan berikutnya. Di saat semua itu hilang, si korban akan merasa ada yang hilang dengan hidupnya, merasa kehilangan si penyiksa, namun sesungguhnya ini bukanlah perasaan takut kehilangan si penyiksa, tapi lebih kepada perasaan takut kehilangan diri sendiri. Diri sendiri yang pernah berbagi bersama, saling melengkapi dan bergantung dimana terdapat impian-impian kenangan manis dan romantis yang pernah dirasakan dulu.
Melepaskan diri dari hal ini adalah jalan terbaik, karena setiap orang punya potensi untuk mampu melengkapi dirinya sendiri. Seperti pada awal cerita, Sassy seorang perempuan mandiri, cantik, cerdas, dan sukses. Dia sudah lengkap sebagai dirinya sendiri dengan kasih sayang dan perhatian ketiga sahabatnya, Naya, Caranita, dan Rose juga ibunya yang selalu mendampinginya.
Lalu diakhir cerita aku berfikir, untuk apa pernikahan? (sambil teringat 10+1 alasan untuk tidak menikah versi Ayu Utami)
Toh tidak juga akan menjamin kebahagiaan.
Tetapi hal tersebut tergantung dengan siapa kita menikah, nah siapa yang sangka juga ketika orang yang dipikir seorang Mr. Right akan berubah menjadi Mr. Totally Wrong?
Hmm….Just Try!!!!
^_^
DEWI