Arsip untuk Oktober, 2008

Kisah Rok dan Celana Pendekku

Posted in Uncategorized on Oktober 4, 2008 by Dewi


Rokku ini warna-warni mirip pelangi, ada ungu, merah, jingga, biru, semuanya terpadu dalam satu motif yang menarik hati. Aku senang memakainya, ia membuatku nyaman, merasa cantik dan feminin. Kurasa memang itulah kesan dari sebuah rok: feminin. Disamping modelnya yang keren, rok cantik ini membuat aku merasa lebih eksotis sebagai perempuan Indonesia.

Aku memakainya saat reunian teman-teman SMA, ini rok favoritku. Rok selutut persis rok SMAku jaman bahela (FYI saat ini di SMAku sudah gak boleh lagi pake rok selutut, seragamnya ganti jadi gaya madrasah). Bedanya rok yang ini modelnya lebih mengembang, jadi enak buat jalan. Bedanya lagi rokku ini selalu menjadi pusat perhatian dan pembicaraan, lho bukannya mereka sering melihat aku memakai rok abu-abu jaman SMA dulu ya.

Ku kira setelah aku pulang rokku akan terbebas dari perhatian dan pembicaraan moral mereka. Rupanya seorang teman cowoku sms katanya, “tar jangan pake rok itu lagi ya, kalo bisa pake celana aja, biar lebih terjaga, gw gak rela lo di jadiin objek ma anak-anak”. Gila care amat ya, tapi buatku itu bukan care namanya tapi menambah deretan diskriminasi yang ditujukan kearahku. Lagian aku heran bukannya perempuan itu dikonstruk buat pake rok ya. Kan aku perempuan.

Mungkin disini perempuan sebagai objek itu biasa, makanya biar terjaga harus di tutup-tutupi. Tapi, kenapa perempuannya yang harus ditutup-tutupi, kenapa bukan pemikirannya aja yang ditutupi dengan pikiran yang positif. Kalau memang aku tampak seksi dengan rok itu, bukan hanya rok ku itu yang mengambil peran dalam image sebuah kata seksi, tapi ada juga aku sebagai perempuan yang seksi dan pemikiran orang terhadapku sehingga akan menimbulkan sebuah image “seksi”. Jadi itu bukan semata-mata salah rok itu.

Kisah ini nyaris sama dengan nasib celana pendekku. Ia tak terlalu pendek, bukan sejenis hotpants, ia hanya celana pendek selutut sama panjangnya dengan rok ku yang tadi. Celana pendek ku ini made in Indonesia. Bukan produk ekspor karna aku beli di pasar tradisional. Walaupun ia adalah produk lokal, tapi ia dilarang beredar kecuali di dalam rumah ketika sedang tidak ada tamu yang datang. Ketika bel rumah berbunyi aku harus tidak boleh tampak mengenakannya atau kakiku harus berlari ke kamar dan menggantinya dengan yang lebih “tertutup” katanya. Sayang sekali prinsipku kali ini adalah “my home is my right” rumahku adalah hak ku. Jadi aku bebas mengenakannya di rumahku Untung saja aku tidak memberlakukan peraturan kalau hendak bertamu kerumahku anda diwajibkan memakai hotpants atau rok mini.

Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan melihat celana pendekku. Aku nyaman dengannya dan aku toh tidak mengganggu mereka dengan celana pendek ku itu. Kalaupun mereka merasa terganggu itu berarti mereka sendiri yang diganggu oleh pikiran sendiri. Celana pendek kan tidak menyebabkan kelaparan dan kemiskinan?

Prinsip “my home is my right” ku rupanya ada yang ingin mengganggu kedaulatannya. Aku tau mereka tidak menyukai celana pendekku ini. Nenekku yang konservatif datang siang ini langsung menginvansi ke kamarku dimana aku sedang ber online-online ria ditemani celana pendek yang aku beli di pasar tradisional itu. Aku sudah sangat tahu sebelumnya kalau ia tak menyukai celana pendekku ini, tapi kali ini ia melakukan penyerangan dengan dalih “tar malem kamu musti datang yak ke pertemuan keluarga, tapi jangan pake celana pendek, pake rok, rok panjang”. Wah dressode nih, tapi kayaknya cuma aku yang dikasih dresscode, hanya karena aku yang punya celana pendek dan tidak berkerudung pula.

Ada yang salah ya dengan perempuan yang memakai rok atau celana pendek. Walaupun aku sangat tau jawabannya, hanya saja aku tidak begitu memiliki kemampuan untuk membuat aku dimengerti. Karna aku lebih bersifat tidak peduli.

Life report from Kampuang Nan Jauah di Mato