*ditulis untuk memenuhi ‘tantangan’ Bung Yosie nyebelin :p
Buku yang berjudul “Sindrom Iri Penis Sketsa Kritik Nalar Feminisme” secara garis besar merupakan pemaparan tentang kritik si penulis buku ini terhadap feminisme, dalam hal ini ia mendefinisikan feminisme hanya terfokus pada feminisme gelombang kedua yang lebih mengarah pada pemikiran Simone de Beauvoir, Mary Daly, Sulamit Firestones, Naomi Wofl dan Kate Millet.
Penulis buku ini menyimpulkan nalar feminisme sebagai apa yang disebut binary opposition (oposisi biner), bahwa feminisme merupakan slogan perang terhadap laki-laki. Hal ini disimpulkan penulis dari analisanya terhadap penguniversalan 3 hal utama yang ia simpulkan dari feminisme yang berasal dari beberapa tokoh feminisme diatas. Patriarki, ketertindasan, dan strategi liberasi feminisme. Dengan kata lain, ia menyimpulkan feminisme merupakan perlawanan terhadap laki-laki sebagai aktor utama patriarki dengan mengusung tema keyakinan terhadap ketertindasan perempuan, lalu binary opposition merupakan strategi untuk meruntuhkan kekuasaan laki-laki tersebut. Ketiga hal inilah yang menurut dia melahirkan implikasi antagonistik yang merupakan penyebab sindrom iri penis yang menjadikan feminisme seperti sedang ingin merebut kekuasaan yang ada pada penis.
Sindrom keirian feminisme terhadap penis mengacu pada pemikiran Sigmund Frued., bahwa perempuan iri terhadap penis yang dimiliki laki-laki. Penis yang gagah, berani, dan kuat, sementara perempuan memiliki penis yang sangat kecil (klitoris). Rasa iri terhadap penis tidak hanya pada bentuk fisiknya melainkan simbol yang melekat pada penis tersebut. Orang yang memiliki penis distereotipkan sebagai yang kuat, hebat, gagah, berwibawa, super, dan makna lainnya yang sejenis. Begitulah Freud menggambarkan betapa perempuan sangat iri pada penis yang dimiliki oleh laki-laki. Penis dirasa sebagai simbol patriarki yang harus dihancurkan perempuan, untuk menghancurkannya maka feminisme menciptakan suatu politik dengan jalan awal membentuk suatu keyakinan universal tentang ketertindasan perempuan. Ketertindasan perempuan merupakan suatu simpulan dari pemikiran beberapa tokoh feminisme seperti Simone de Beauvoir tentang perempuan sebagai Lyan, Sulamith Firestone yang mengidentifikasi ketertindasan perempuan dari faktor perempuan sebagai alat reproduksi, dan Kate Millet dalam Sexual Politics menyatakan bahwa patriarki sebagai basis semua bentuk ketimpangan dalam segala bentuk hubungan sosial yang mencakup ketertindasan di dalamnya.
Berkali-kali si penulis buku ini menjebakkan feminisme kepada simpulan tentang bagaimana feminisme menjadikan laki-laki sebagai musuh abadi. Hal ini menjadikan penulis buku ini pesimis terhadap feminisme yang telah distereotipkannya sebagai yang sangat berambisi untuk memenangkan perseteruan dengan laki-laki dalam binary position. Hingga feminisme dipercaya akan mendapat perlawanan dari perempuan sendiri dikarenakan feminist telah mengekslusifkan diri dari perempuan secara umum. Feminisme menjadi pengetahuan yang sangat ideologis dan dogmatis. Dia (si penulis buku ini) mengeneralisir dan menguniversalkan feminisme!
Sekilas Feminisme dari Pembacaan Seorang Dewi
Saya setuju dengan kesan Aquarini Prabasmoro yang dituliskannya pada sampul belakang Feminist Thought, “Feminisme sebagai suatu pohon besar, yang bercabang-cabang, yang setiap cabangnya mempunyai cabang lagi, yang masing-masing menghasilkan bunga. Setiap cabang merupakan pohon kecil yang saling berhubungan dengan cabang lain untuk membentuk pohon besar feminisme”.
Setiap aliran feminisme yang ada, dari awal kemunculannya (dimulai dengan aliran feminisme yang biasa disebut feminisme liberal/feminisme gelombang pertama) hingga feminisme komtemporer yang berkembang sampai saat sekarang ini (postfeminisme atau biasa disebut feminisme gelombang ketiga). Beragam aliran feminisme ini memang tidak dapat dipungkiri multiinterpretasi dan menuai kritikan dari berbagai kalangan baik dari pencinta feminist maupun kalangan lainnya. Feminisme selalu terbuka untuk diperdebatkan, karena feminisme bukanlah sebuah doktrinasi absolut yang memiliki kebenaran tunggal.
Kemunculan feminisme adalah untuk memperjuangkan apa yang sesungguhnya menjadi hak perempuan, seperti pada awal kemunculannya feminisme liberal memperjuangkan hak perempuan untuk ikut memberikan suara dalam pemilu, memperjuangkan hak-hak buruh perempuan dalam sistem kerja yang tidak adil pada masa itu. Senada dengan yang dituliskan dalam buku “Feminis Untuk Pemula” yang menyatakan bahwa feminisme lahir atas dasar diskriminasi terhadap perempuan, bertujuan untuk membebaskan perempuan menuntut hak-hak mereka sebagai manusia yang seutuhnya dengan menentang relasi antara laki-laki sebagai core dan perempuan sebagai the other dan melawan segenap struktur kekuasaan, hukum, dan aturan-aturan yang menjadikan kaum perempuan sebagai yang direndahkan, subordinat, dan dijadikan kelas kedua setelah laki-laki sebagai kelas utama. Ini memperlihatkan bahwa dari awal kemunculannya feminisme tidak pernah memiliki tujuan untuk merebut kekuasaan laki-laki.
Sindrom Iri Penis: Ketakutan yang Lebay terhadap Feminisme
Buku Sindrom Iri Penis Sketsa Kritik Nalar Feminisme telah menempatkan feminisme secara universal. Penulis tidak secara menyeluruh mengenal lebih dalam feminisme, sehingga menjadikan feminisme terinterpretasi sebagai yang bernalar opposisi biner dengan menempatkan laki-laki sebagai musuh abadi dalam mencapai tujuan dari feminisme itu sendiri.
Kecemburuan terhadap penis seperti yang didefinisikan Freud adalah sesuatu yang berlebihan. Kenapa harus cemburu pada penis? Hanya karena penis itu disimbolkan sebagai yang kuat, gagah, super, dan lain sejenisnya. Benarkah penis seperti itu? Saya pikir tidak semua penis adalah yang kuat, gagah, dan super. Buktinya lebih banyak obat kuat yang ditujukan pada penis daripada vagina. Lalu, untuk apa perempuan harus merasa rendah dan malu karena hanya memiliki penis yang sangan kecil dan bahkan tidak terlihat (klitoris). Saya dalam hal ini berbeda pendapat dengan Freud, penis adalah penis, klitoris adalah klitoris, bukan berarti klitoris adalah penis yang sangat kecil. Klitoris ini memiliki banyak kumpulan syaraf. Terdapat sekitar 8000 syaraf dan jumlah ini melebihi bagian tubuh manapun, termasuk lidah, ujung jari, dan bibir. Jumlah syaraf yang ada pada klitoris ini melebihi jumlah syaraf yang ada pada penis. Dengan apa yang dimiliki klitoris ini yang dianggap penis yang kecil oleh Freud, mengapa perempuan harus iri terhadap penis? Sangat lebay kan ya :p
Kecemburuan terhadap penis dalam definisi penis sosial adalah bagaimana simbol-simbol yang distereotipkan pada penis dan pemiliknya ini sebagai sesuatu yang kuat, gagah, hebat, super dibanding yang bukan penis. Apakah perempuan (feminist) cemburu akan hal ini?. Mengacu pada Dewi sebagai seorang perempuan, sebaiknya akan dibahas dulu apa itu cemburu?. Menurut kamus bahasa Indonesia Depdiknas cemburu adalah merasa tidak senang atau kurang senang melihat orang lain beruntung. Penis memang sangat beruntung dengan semua strereotip fisik dan sosial yang ia miliki. Keberuntungan yang dimiliki penis ini secara tidak langsung telah mengkonstruk bahwa apa yang non penis bukanlah yang kuat, super, perkasa, gagah, dan sejenisnya, dengan kata lain non penis, dalam hal ini bahasa menempatkan antonim dari penis adalah vagina (termasuk klitoris didalamnya) sebagai yang memiliki sifat berlawanan dengan apa yang dimiliki penis. Jadi, terlihat bahwa bukan feminisme yang telah membentuk posisi biner dalam mempertentangkan penis dan vagina, laki-laki dan perempuan.
Simone de Beavoir dalam bukunya the Second Sex, menurut saya tidak sedang berusaha meyakinkan sepenuhnya tentang ketertindasan perempuan, Beauvoir bahkan sedang membangun kekuatan perempuan tentang bagaimana arti diri dan menjadi perempuan. Sebagaimana tulisan Beavoir yang menyatakan:
“Tidak ada alasan sama sekali untuk terjebak dalam sesuatu yang sudah merupakan ”takdir”, suatu sistem yang kemudian menjadi kebudayaan dan harus menekan hal-hal kodrati itu. Perempuan mempunyai hak penuh untuk menjadi bangga sebagai perempuan, seperti juga laki-laki bangga menjadi laki-laki. Pada akhirnya laki-laki memang berhak bangga atas kelaki-lakiannya dengan syarat tentu saja bahwa laki-laki tidak mengambil hak perempuan untuk juga memiliki kebanggaan yang sama menjadi perempuan. Setiap orang dapat bahagia dengan tubuhnya. Tetapi tidak selayaknya kita menempatkan tubuh sebagai pusat dari jagad ini.”
Dari kutipan Beavoir tersebut, menurut saya Beauvoir sedang tidak menempatkan nalar feminisme dalam oposisi biner, dan juga tidak menempatkan laki-laki sebagai musuh yang abadi. Jadi menurut saya feminisme tidak sedang terjebak pada binary opposition yang diduga telah menggagalkan tujuan feminisme, mempertentangkan feminist dengan perempuan bukan feminist. Pada awalnya saya merasa buku ini telah mengalami kesesatan dari segi judul dengan menggeneralisir kata feminisme, mengkritiknya tapi tidak dengan seksama mengenal keseluruhan aliran feminisme. Lalu diakhiri dengan memberikan solusi yaitu postfeminisme dimana postfeminisme ini adalah juga termasuk feminisme gelombang ketiga. Semua aliran feminisme adalah satu kesatuan sebagaimana yang dikatakan Aquarini sebagai satu besar pohon feminisme.
Catatan:
Tulisan di buku ini, menurut saya tergolong basi, seperti halnya sedang merangkum buku Feminist Thought lalu menggabungkan beberapa pemikiran feminisme dalam buku ini yang dirasa bisa dijebakkan pada denifisi iri penis dalam satu jalur dan menjadikan aliran feminisme lain (postfeminisme) sebagai jalan keluar yang tidak ia selesaikan dengan baik dalam menuliskan solusi atas kritiknya.
Saran:
Kenalilah feminisme dengan lebih indah!
Maaf gak pake footnote, passion nulisnya agak kurang.